News Update :

Dunia Internet

Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Telaga Ajaib

Headline

ALKISAH di suatu negeri dongeng terdapat sebuah telaga ajaib yang dapat mengabulkan permintaan seseorang untuk mengubah dirinya sesuai yang diidolakan. Caranya, cukup dengan meneriakkan permintaan sambil menceburkan diri ke telaga.

Kabar itu terdengar oleh tiga nenek ganjen yang ingin kembali seperti gadis belia. Datanglah ketiga nenek tersebut ke tepi telaga, dan mereka berlari sambil meneriakkan artis idolanya.

Nenek Pertama: "Sambil berlari dan berteriak, 'Madonna!'"

Seketika itu juga sang nenek berubah seluruh badannya mirip seperti Madonna.

Disusul oleh nenek Kedua: "Britney Spears...." Seketika itu pun berubah mirip Britney Spears.

Nah saat giliran nenek ketiga, dengan semangatnya dan tidak sabar ingin seperti rekan-rekannya. Namun sial ketika berlari ke arah telaga, si nenek yang latah ini tersandung batu.

Sambil menyebur sang nenek spontan menyebut alat kelamin laki-laki. Maka saat muncul ke permukaan, si nenek berubah menyerupai bentuk senjata laki-laki, yang tentunya sebesar nenek-nenek.

Jangan Ambil Tanganku Pa.....


Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkiran mobil, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja motor karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

5 Kisah Seram Dibalik Dongeng Terkenal Dunia

Anda tentu sudah sering mendengar tentang kisah hidup Cinderella yang tadinya dikenal dengan Upik Abu yang penuh derita, kemudian berubah menjadi Putri Kerajaan yang cantik jelita. Anda pun sudah sering mendengar tentang kisah Hansel dan Gretel yang ditinggal oleh orang tuanya di dalam hutan.

Cerita-cerita menjelang tidur itu memang sangat menghibur dan membawa kenangan masa kecil yang begitu indah. Namun tahukah Anda bahwa dongeng-dongeng tersebut pada awalnya bukan begitu ceritanya. Dalam sebuah buku berjudul The Most Creepy Fairy Tales, dongeng-dongeng itu ternyata awalnya dibuat dengan cerita yang sangat mengerikan dan menakutkan. Beruntunglah kita tidak pernah mendengar kisah sebenarnya dari dongeng-dongeng itu, karena telah dimodifikasi sedemikian rupa (terima kasih untuk HC Anderson, Brother Grimms, dan Walt Disney yang telah mengubah kisah horor itu menjadi dongeng anak-anak yang menyentuh hati). Jika tidak, mungkin masa kecil kita tidak seindah yang kita ingat. Berikut ini adalah kisah sebenarnya dari dongeng-dongeng populer tersebut :


1. SNOW WHITE & SEVEN DWARFS



Ucapan terima kasih perlu kita alamatkan pada Walt Disney yang telah mengubah kisah Putri Salju dan 7 Kurcaci ini menjadi sebuah cerita yang legendaris seperti yang kita ketahui saat ini. Dalam versi asli epik ini, dikisahkan bahwa Ratu meminta bawahannya untuk menghabisi Putri Salju. Dan sebagai bukti kalau Putri Salju telah terbunuh, sang bawahan harus membawa jantung Putri Salju. Saat melepaskan Putri Salju, Bawahan Ratu membunuh rusa dan membawa jantung rusa itu ke hadapan Ratu, serta mengakui jantung itu milik Putri Salju. Sang Ratu lalu memakan jantung Putri Salju dan berharap kecantikan Putri Salju berpindah padanya.

Di akhir cerita, dikisahkan bahwa Putri Salju yang tewas setelah makan apel beracun, hidup lagi berkat ciuman seorang Pangeran. Setelah Putri Salju diboyong ke istana, sang Ratu dihukum. Namun berbeda dengan versi yang anda ketahui, hukuman untuk Sang Ratu sangatlah kejam. Kakinya dipasung dengan sepatu besi dan si Ratu dipaksa menari sampai mati di hadapan Putri Salju.


2. CINDERELLA :



Kisah lain yang cukup populer di masa kanak-kanak kita adalah Cinderella alias Si Upik Abu. Dalam versi aslinya, saat Pangeran mencari pemilik sepatu kaca, Ibu Tiri Upik Abu berusaha sangat keras agar anak-anaknya terpilih sebagai pemilik sepatu. Putri yang kakinya kebesaran, jari-jarinya dipotong agar muat. Sementara Putri yang kakinya kekecilan, kakinya digilas dengan roda gerobak kuda yang sangat berat (dari sinilah sebenarnya muncul istilah "Pain for Beauty"(Biar Sakit Asal Cantik)). Pada akhirnya, cara itu tidak berhasil karena Sepatu Kaca itu tetaplah tidak muat untuk kedua kakak-beradik itu.

Ketika Sang Pangeran menemukan bahwa pemilik sepatunya adalah Cinderella, maka murkalah dia, dan segera memerintahkan burung elang peliharaannya untuk mematuk dan memakan mata Ibu Tiri Cinderella, kemudian mengusir Ibu Tiri dan adik-adik tirinya dari kota. Sang Ibu Tiri dan adik tiri Cinderella pada akhirnya menjadi pengemis yang tinggal di luar kota.


3. HANSEL & GRETEL



Kisah rekaan Brother Grimms ini awalnya dibuat untuk orang dewasa. Namun karena tidak populer, akhirnya diubah versinya dan disesuaikan untuk anak-anak. Dalam versi dewasanya, Hansel dan Gretel diceritakan sering disiksa oleh orang tuanya yang psycho. Sang ayah sering menyambuk mereka dan sang ibu suka melukai kedua anak itu dengan menyayat kulit mereka dan tertawa-tawa saat melihat darah mengalir keluar dari kulit yang tersayat itu.
Saat kedua anak itu kabur dari rumah, keduanya bertemu rumah yang terbuat dari permen / coklat, yang tidak lain adalah milik Tukang Sihir. Yang mengejutkan, Sang Tukang Sihir adalah Kanibal yang pada akhirnya membunuh dan memakan mereka.
Hansel & Gretel adalah kisah pertama yang mengangkat tema kanibalisme.


4. LITTLE RED RIDING HOOD



Kisah klasik ini sebenarnya diangkat dari kisah nyata tentang penyerangan seekor srigala pada seorang anak perempuan berkerudung merah. Kejadian ini terjadi pada abad 18 di daerah Eropa. Waktu itu dikisahkan seorang anak disuruh orang tuanya mengunjungi nenek mereka yang sakit dan tinggal di hutan. Awalnya, anak itu disuruh pergi subuh-subuh. Namun entah mengapa, sang anak memutuskan pergi tengah malam. Akibatnya, dia dikejar oleh srigala. Memang si anak lolos dari kejaran srigala dan berhasil tiba di rumah neneknya dengan selamat. Namun yang tidak diduga olehnya, ternyata ada seekor srigala yang telah memakan sang nenek dan bersembunyi di dalam rumah. Dan ketika si anak itu tiba di rumah, sang serigala segera menghabisi anak malang itu.

Kisah asli Little Red Riding Hood nyaris difilmkan secara utuh dalam film Hoodwinkled. Namun berhubung film itu dikhususkan untuk anak-anak, akhirnya versinya diubah dengan mengikuti alur sesuai dengan cerita yang kita ketahui saat ini. Jika tidak.... mungkin Anda akan termuntah-muntah saat menontonnya.

5. THE LITTLE MERMAID :



"Under the sea.... under the sea..." Yeah... Anda tentu ingat lagu yang dinyanyikan oleh Sebastian - si udang berisik dari dasar laut. Dengan aksen Jamaikanya dia menghibur kita dengan lagu yang menyenangkan itu. Kisah si Putri Duyung ini pun begitu menyentuh dan disuka oleh banyak orang hingga hari ini. Namun tahukah Anda bahwa kisah si Putri Duyung itu tidaklah seindah yang Anda tahu?

Dalam versi aslinya, Ariel si Putri Duyung - selama menjadi manusia - dibekali dengan pisau yang terselip rapi di balik rambutnya yang panjang dan tebal. Tujuannya sederhana : Jika ada orang yang mencurigai keberadaannya sebagai Putri Duyung, maka Ariel harus membunuh orang itu. Dia harus melakukan hal ini untuk melindungi jati dirinya, serta keselamatan kerajaan Neptunus dan spesies Mermaid di laut agar tidak menjadi buruan manusia.

Dalam perkembangan kisahnya, kisah cinta Ariel berakhir tragis. Cintanya bertepuk sebelah tangan, dan sang pangeran meninggalkannya untuk menikah dengan gadis lain. Hal ini membuat Ariel patah hati dan akhirnya memilih membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang dibawanya.



Dari sinilah muncul istilah "Mermaid Tears" (Air mata Putri Duyung).
Hewan Sirenia - atau dikenal juga dengan sebutan Sapi Laut / Sea Cows - disebut pula dengan nama Putri Duyung karena memiliki morfologi tubuh yang mirip dengan gambaran Putri Duyung. Hewan laut ini sering terlihat mengeluarkan air mata. Dan kini Anda paham kan mengapa dia menangis?

Kisah mengharukan adik dan kakak


Roy Angel adalah ustadz miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 2009, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya.

Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah di Jakarta dan memiliki kantor di Di sana. Seminggu sebelum Hari raya, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.
.
Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.
"Hai.. nak" sapa Roy

Anak itu melihat pada Roy dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?" "Ya," jawab Roy singkat.
"Berapa harganya Tuan?"
"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".
"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?" Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.
"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"
.
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam, "Seandainya. ...seandainya. ..." Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu. "Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku."


Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya: "Seandainya. .. seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu....." Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya.
.
Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya. Sampai satu kali anak itu berkata, "Tuan bersediakah mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini". Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini. "Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah." pikir Roy . "OK, mengapa tidak", kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.
.
Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak, "Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali". Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu.
.
Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya: "Lihat... seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".
.
Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya. Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.
.

Kiasah cinta nyata:Seorang pria muda meninggalkan pesan terakhirnya di Facebook sebelum bunuh diri

Seorang pria muda meninggalkan pesan terakhirnya di Facebook sebelum bunuh diri


Alviss Kong mendadak tenar di publik malaysia dalam sebulan terakhir ini, ini bukan karena dia baru saja memenangkan pemilihan kontes idol ataupun karena timnasnya baru saja memenangi leg pertama Indonesia vs Malaysia. Tapi karena Alviss Kong memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis yaitu melompat dari apartementnya pada tanggal 8 desember 2010 lalu.


Bila Alviss Kong melompat selayaknya tanpa alasan, mungkin publik malaysia tidak akan peduli tapi tragisnya sebelum Alviss memutuskan untuk bunuh diri, ia sempat melakukan update distatusnya untuk memberitahu bahwa ia akan melompat dalam waktu 45 menit yang akan datang. Mulanya tidak ada yang percaya dengan apa yang pria berumur 22 tahun itu lakukan, tapi ketika statusnya mulai dibalas dan dibaca oleh adiknya, semua mulai merasa cemas.


Sebelum melompat, Alviss seperti memberikan pesan terakhir kepada adik-adiknya dan ibunya, adiknya(chelvin kong) yang pada awalnya berpikir sang kakak bercanda akhirnya mulai merasa ada yang tak beres, karena tinggal jauh di Brunai, ia mencoba untuk mengontak ayah dan ibunya, sayangnya kedua orang tua Alviss sedang pergi ke undangan dan tidak dapat menerima panggilan sang adik, karena merasa cemas sang adik meminta sahabatnya untuk mengecek apartement sang kakak, betapa terkejutnya ketika sang teman menemukan Alviss benar-benar bunuh diri melompat dari lantai 14 apartementnya.


Ia masih sempat bernafas saat itu, sayang ketika dibawa ke dokter 14 jam kemudian Alviss dinyatakan meninggal. Alvis bukan tanpa alasan melakukan bunuh diri, setelah diselediki, ternyata ia bunuh diri karena ditinggalkan oleh kekasihnya yang baru saja memutuskan hubungannya sejak 4 bulan lalu tanpa alasan. Alviss merasa sangat frustasi apalagi ditambah dengan diketahuinya sang kekasih telah memiliki pasangan lain. Sebelum ia memutuskan bunuh diri, Alviss sempat berpose dengan wajah mengeluarkan air mata dan foto itulah yang menjadi kenangan terakhir orang-orang yang melihatnya.
alviss kong menangis sebelum bunuh diri
“Seperti seorang pria yang penuh menderita karena cinta“ itu pandangan saya ketika melihat foto itu. mungkin hal yang sama di katakan oleh orang-orang malaysia yang ikut bersimpatik padanya, halaman facebooknya langsung menjadi hit list dimana-mana karena banyak orang yang ingin melihat sosok pria malang itu. ketiika Facebook melakukan penghapusan accountnya, malah muncul facebook untuk mengenang Alviss kong yang jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Memang terkadang, sulit bila kita bayangkan, apa dan mengapa seseorang ingin berkorban demi cinta walau harus membayar dirinya dengan kematian. Alviss kong sepertinya paham betul bahwa apa yang ia lakukan akan menjadi beban berat bagi sang mantan kekasih yang langsung mendapat hujatan publik malaysia. Ia meninggalkan setidaknya 4 Pesan untuk mereka yang ia tinggalkan.

1. Kepada adik perempuannya : Adikku, kau harus tau, aku sangat menyanyangimu walaupun aku tidak pernah tau bagaimana menunjukkan padamu.

2. Kepada adik terkecilku : tumbuhlah menjadi dewasa dan selalu menyanyangimu.

3. Kepada orang tuaku: aku mencintaimu ibu dan ayah, jagalah diri kalian selalu, maafkan semua kesalahan yang pernah kubuat.

4. Kepada mantan kekasihku (binlui); apa yang aku lakukan adalah pilihan yang aku tentukan, ini bukan salahmu tapi salah keadaan yang membuatku tak dapat bertahan.

status facebooknya sebelum mengakhiri hidup
Dalam blog pribadinya juga, Alvis juga banyak menyatakan perasaan sedihnya karena ditinggalkan oleh kekasihnya, oleh mengapa itu publik bisa berpikir membenci sang mantan karena Alvis menuliskan

“ Kau selalu bilang mencintaiku dan itu yang aku selalu nantikan, tapi ketika itu kudapatkan malah kau kini bersama yang lain.”

Sungguh membuat saya terharu, terkadang cinta membawa duka bagi siapapun yang ditinggalkan, saya amat prihatin dengan keputusan Alvis Kong. Setidaknya apa yang ia lakukan walaupun baginya keputusan baik, bagi kita yang melihatnya adalah perbuatan yang sangat sulit diterima. Saya selalu ingat apa yang pernah saya katakan ketika pernah membuat kisah sejenis, seorang pria yag hendak bunuh diri karena ditinggalkan kekasih. Tapi ia beruntung, berhasil mengurungkan niatnya ketika bertemu Angel. Dan kata Angel untuknya.
kekasih yang diduga memicu alvis bunuh diri
“ Ingatlah, Hidupmu hanya sekali dan cintamu akan berkali-kali hadir dalam hidupmu, jadi sayangilah hidupmu. Karena ketika kau berakhir di dunia ini, mungkin kau akan menyesal kehilangan cinta lain yang ada dalam hidupmu. Jangan mau mati karena orang yang tak pernah mencintaimu, itu hanya akan membuatmu menyesal seumur hidupmu walaupun ketika kau mati, kau tidak akan merasakan hal itu “ kata Angel dalam kisah “ Cinta itu bodoh”.

Akhir kata, saya turut berduka cinta untuk Alvis Kong dan semoga pelajaran ini membuat kalian yang berada dalam keadaan sama dapat mengambil keputusan yang baik dan tidak berpikiran sempit. Karena cinta,

Bukan untuk membuat kita tertinggal di dunianya..

dan buat seseorang yang memang terlahir untuk menjadi manusia yang baik. janganlah engkau memberikan harapan kepada orang yang tidak kamu cintai dan membuat orang lain terluka karena cintamu, karena bagi seseorang yang berharap denganmu, cintamu adalah segalanya.

semoga pelajaran alviss bisa membuat kita intropeksi untuk lebih menghargai hidup dan cinta dan simpatik kami indonesia untukmu 

Seekor Keledai Dan Sumur Tua

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur tua. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, si petani memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya), jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.

Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.

Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur. Si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

THINGS TO LEARN

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran.

Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari "sumur" dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah.

Kita dapat keluar dari "sumur" yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
  1. Bebaskan dirimu dari kebencian
  2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan.
  3. Hiduplah sederhana.
  4. Berilah lebih banyak.
  5. Berharaplah lebih sedikit.
  6. Tersenyumlah.
  7. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

Michael Jackson !!

Deng Xiaoping, seorang pria Taiwan yang sangat kaya tetapi tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris tiba di airport New York.

Setelah mengantri di imigrasi, saat mencap paspor, petugas menanyakan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kunjungannya ke USA .

Pertanyaan pertama imigrasi: "Apa nama terakhir dari Presiden Pertama kami?"

Karena tidak mengerti bahasa Inggris dengan baik, dia menduga bahwa petugas menanyakan nama keluarganya (surname). Lalu dia menjawab: "Wo xing Deng (dibaca: wo sing Teng)." Dalam Mandarin berarti: "Marga saya Deng"). Fyi, dalam budaya Chinese, orang Chinese selalu memperkenalkan marganya dulu saat kenalan pertama kali.

Petugas mendengar "Washington! " (sama bunyinya) lalu dia melanjutkan ke pertanyaan ke-2: "Untuk apa kamu mau pergi ke US?"

Pikirnya, secara logis tentu sekarang dia menanyakan nama saya. Lalu dia menjawab: "Xiaoping."

Petugas mendengar : "Shopping!"

Pertanyaan ke-3: "Kendaraan apa yang kamu kendarain di Taiwan?"

Turis itu berpikir, dia ditanyakan statusnya di Taiwan, dan menjawab dalam bahasa Hokkien: "Bo bo.” (dalam Hokkien berarti: "Belum beristri").

Dan petugas mendengar: "Volvo!" lalu dia tersenyum dengan hormat dan bertanya lagi.Pertanyaan ke-4: "Siapa penyanyi pop yang paling terkenal di USA?”

Saat ini lelaki Taiwan sudah mulai tidak sabar dan mulai berkata dengan keras dalam bahasa Hokkien: "Mai Ko Cai Seng." (arti: "Jangan main-main lagi dengan saya").

Petugas mendengar: "Michael Jackson!"

Kagum akan pengetahuan si turis, petugas mencap paspornya.

3 Permintaan

Seorang wanita sedang bermain golf suatu hari dan kemudian dia memukul bola masuk ke pepohonan.

Dia pergi ke pepohonan tersebut untuk mencari bola golf dan dia menemukan seekor katak yang terperangkap.

Si katak berkata kepadanya, “Kalau kau melepaskan aku dari perangkap ini, aku akan mengabulkan tiga permintaanmu.”

Si wanita membebaskan si katak. Si katak berkata, “Terima kasih, tapi aku lupa mengatakan kepadamu ada akibat dari permintaan-permintaan tersebut. Apapun yang kau minta, suamimu akan mendapatkan 10 kali lipatnya.”

Sang wanita, yang memang punya suami yang menyebalkan, berkata “Itu tidak masalah.”

Untuk permintaan pertama, dia minta untuk menjadi wanita yang paling cantik di dunia dari seluruh wanita di dunia.

Si katak memperingatkannya, “Kamu sadar ‘kan kalau permintaan ini juga akan mengakibatkan suami kamu menjadi orang yang paling tampan di antara semua pria di dunia lipat 10. Wanita-wanita akan mengelilinginya?”

Si wanita berkata, “Tidak masalah, karena aku akan menjadi wanita tercantik di dunia, dia dan pria lain akan memperhatikan aku.”

Lalu, CLING, si wanita menjadi wanita tercantik di dunia, sementara suaminya menjadi pria yang ketampanannya 10 kali lipat.

Untuk permintaan kedua si wanita meminta untuk menjadi wanita terkaya di seluruh dunia.

Si katak berkata, “Itu akan membuat suamimu menjadi orang paling kaya di dunia. dan kekayaannya 10 kali lipat dari kekayaanmu.”

Si wanita berkata, “Tidak masalah, karena kami masih suami-istri, miliknya adalah milikku dan milikku adalah miliknya.”

Lalu, CRING, dia menjadi wanita terkaya di dunia. Sementara suaminya mendapatkan kekayaan 10 kali lipatnya.

Si katak bertanya tentang permintaan terakhirnya, dan dia menjawab, “Aku menginginkan serangan jantung ringan.”

Moral dari cerita ini: Wanita itu pandai, jangan main-main dengan mereka!

PERHATIAN!! Bagi para pembaca WANITA: Ini adalah akhir dari lelucon bagi kalian. Berhentilah dan tetaplah merasa nyaman.

Pada pembaca PRIA: Baca terus…

…..
…..
…..

Lalu, DUAGH, si wanita terkena serangan jantung ringan, sementara sang suami terkena serangan jantung yang 10 kali LEBIH RINGAN dari istrinya.

Aku dan Si Bisu

Bosan aku di rumah,. Setiap hari hari harus mendengar omelan ibu, rengekkan adik perempuanku. Masalah sebenarnya sepele saja, bersih-bersih rumah. Sedangkan aku tidak mau meninggalkan kegiatanku hanya untuk rutinitas rumah yang sepele itu, yang ujung-ujungnya bisa membuat omelan ibu bertambah panjang. Kalau sudah begitu, aku langsung bersumpah dalam hati, besok kalau aku sudah berkeluarga, aku akan memanggil pembantu saja untuk mengurusi semua tetek bengek urusan pekerjaan rumahku. Aku benar-benar dongkol dan trauma karna omelan ibu. Apakah para ibu, selalu mengomel seperti itu. Tuhan selamatkan aku dari rumah yang hampir kiamat ini.
“Bang, es tehnya satu!” teriakku pada penjual es yang ada di depan sekolahku. Enak banget si Lina itu ya, tiap hari diantar pakek mobil, ber-AC lagi, seandainya aku punya mobil seperti dia, pasti sekarang gak bakalan terpanggang panas matahari seperti ini. Ya, sesuatu yang aku impi-impikan setiap hari. Sebenarnya aku punya motor di rumah, tapi ibu melarangku membawanya, alasannya aku belum cukup gede lah, takut bahayanya. Apakah setiap ibu juga selalu kuatir berlebihan seperti itu? Hah,.. menjengkelkan.
Aku duduk sambil menyeruput es tehku yang semakin nikmat saja. Wah enak sekali. Sangat sejuk ditenggorokanku yang sudah kering kerontang. Sesekali aku membalas lambaian teman-temanku yang sedang mengayuh sepedanya. Kalau saja rumahku dekat dengan sekolah, aku juga mau mengayuh sepeda seperti itu. Tapi sayangnya rumahku terlalu jauh, jadi aku harus menunggu angkot yang jurusannya searah dengan rumahku.
Angkot jurusanku sudah datang, dengan tergesa-gesa aku membayar es tehku, dan segera berlari sekencang-kencangnya, agar aku mendapat bangku kosong yang nyaman. Aku lihat sudah ada 3 penumpang di dalam angkot. Di depan sebelah pak sopir satu, dekat jendela belakang satu, dan di saebelahku, di dekat pintu, satu. Seorang gadis seumuranku, tapi anehnya dia tidak berseragam sekolah sepertiku. Ditangannya membawa keranjang besar yang ditutup kain. Kulit gadis itu coklat terbakar matahari. Sebenarnya dia gadis yang agak cantik, tapi pakaiannya lusuh, pokoknya yang jelas dia benar-benar tak memperhatikan penampilan, di benakku langsung terlintas, daripada bengong lebih baik aku ajak saja dia bicara”
“ Wah, panas ya”
“.. Tidak ada suara jawaban, hanya anggukan”
Menyebalkan sekali gadis ini, bisa-bisanya membalas sapaanku dengan anggukan saja. Tapi aku tetap saja mengajaknya bicara.
“ Rumahmu dimana?” masih Jauh?
“…Tidak ada jawaban, dan lagi-lagi dia mengangguk
Rupanya cuaca panas sudah membuat orang malas bicara, gerutuku dalam hati. Karena dia diam, akhirnya dengan terpaksa aku diam juga.
“Bruak..!” terdengar sopir membanting pintu angkotnya, maklum angkot tua, jadi kayaknya pintu juga sudah agak rusak, tidak akan tertuup rapat bila tidak dibanting. Tapi suara bantingan itu, selalu saja membuat aku dan seluruh isi penumpang angkot ini kaget setengah mati, cuman gadis itu yang agaknya kagetnya telat. Kasihan pak sopir dia hanya bisa menemukan satu penumpang lagi setelah 3 penumpang yang ada di angkotnya, jadi total penumpang ada 4, dan jelas masih banyak bangku yang kosong. Terdengar samar-samar suara pak sopir menggerutu, jelas saja penumpang hanya sedikit, masalahnya harga BBM baru saja naik dan tarif angkotpun ngikut naik. Angkotpun mulai berjalan.
Dalam hati aku bersyukur, untung saja ayahku bukan sopir angkot. Kalau ayahku sopir angkot, bagaimana dia akan menghidupi istri dan ketiga anaknya. Tapi meski begitu aku sedih juga jarang bertemu dengan ayahku, karena proyeknya selalu di luar kota dan butuh waktu berbulan-bulan untuk bertemu dengan ayahku, dan itupun hanya sebentar, karena ayahku harus cepat-cepat lagi kembali kerja di kota lain..kasihan juga ayahku, beliau pasti juga sedih karena jarang bertemu dengan keluarga tercintanya.
“Tiit”…suara bel angkot berbunyi, tanda ada penumpang yang akan turun, tapi kenapa angkot ini terus melaju? Rupanya pak sopir melamun sampai tak mendengar suara bel. “Dug-dug-dug, gadis disebelahku mengetok-ngetok lagit-langit angkot, tapi pak sopir tetap saja asyik melamun atau mungkin lagi konsentrasi mencari-cari calon penumpang, kenapa gadis ini tidak teriak sih? Pikirku. Sebelum angkot melaju lebih jauh lagi, “kiri pak-kiri pak”, spontan saja aku teriak. Angkotpun langsung berhenti. Gadis itu menoleh sekilas padaku. Lalu ia membayar ongkos angkot kepada pak sopir, “Kurang 1000 dek”, BBM naek” kata pak sopir pada gadis itu. Kulihat wajah gadis itu panik, dan ia melihat isi dompetnya yang kosong, lalu melambaikan tangannya pada pak sopir, dan dengan suara yang tergagap-gagap dan sangat gagu dia mencoba menjelasakan pada pak sopir dengan gerakan tangannya dan raut mukanya. Aku baru sadar, bahwa gadis itu bisu, pak sopir mulai menggerutu. “Sudah pak , saya yang membayar kekurangannya” kataku pada pak sopir. Gadis itu tersenyum padaku, akupun membalasnya. Sedangkan pak sopir menjalankan angkotnya kembali. Maklum saja pak sopir bersikap seperti itu, pasalnya dia harus mengejar setoran. Sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di gang rumah, akupun membayar ongkos angkot lengkap dengan kekurangan gadis itu tadi.
Sampai di rumah aku langsung merebahkan diri di sofa, nyaman sekali. Tapi kenyamanan itu berubah jadi ketidak nyamanan, karena omelan ibuku, masalahnya simple, karna aku tidak segera melepaskan seragamku. Hah…menyebalkan.
Beberapa hari kemudian sewaktu pulang sekolah, aku kebetulan bertemu dengan gadis itu lagi di angkot, ia tersenyum ramah kepadaku, dan langsung menyerahkan uang 1000 padaku, langsung saja aku menolaknya.
“ Anggap saja sebagai tanda persahabatan” kataku sambil sedikit bingung dan tertawa, karna aku harus bicara padanya dengan suaraku yang kuikuti juga dengan gerakan-gerakan tanganku berharap supaya gadis itu memahami maksudku. Dia menjawab terimakasih dengan susah payah dan tergagu-gagu. “Kok kamu nggak sekolah?”. Dia menjawab dengan kata-kata yang kurang aku pahami. Karena melihatku melongo, gadis itu segera tahu kalau aku tidak memahami perkataannya, lantas dia mengambil sebuah buku sejenis note book dan bolpoin, dan ternyata bukunya itu penuh dengan coretan-coretan huruf dan angka-angka, lau ia mulai menulis. Sudah tiga hari aku membolos sekolah. Wajar saja aku kaget, wajah selugu itu kenapa suka bolos, lalu aku menuliskan pertanyaan di bawah tulisannya.
“Mengapa membolos?”
Sudah empat hari ini ibuku sakit, jadi aku harus menggantikannya berjualan kolak pisang diterminal, kalo gak gitu kami gak bisa makan dan gak ada yang bisa buat bayar biaya sekolahku.
“Jadi, keranjang yang kamu bawa ini isinya kolak pisang?
“Iya, kamu pikr apa?”
“Bom”
Lalu kami berduapun tertawa, dan tiba-tiba terlintas di benakku bayangan kolak pisang, wah pasti enak sekali, apalagi panas-panas begini, langsung saja aku menuliskan kata-kata di note booknya lagi
Boleh aku mencicipi kolak pisangmu? Jangan kuatir pasti kubayar, lalu jawabnya.
Boleh, gak kamu bayarpun gak papa, aku kan punya hutang Rp.1000 ke kamu, tapi sayang sekali aku suda hampir sampai, jadi acara mencicipi kolak pisangnya besok saja ya? Dalam hati aku kecewa, padahal aku sudah ingin sekali makan kolak pisang, tapi setelah aku pikir-pikir, mana mungkin makan kolak pisang di dalam angkot, kan ribet banget nantinya, dan langsung terlintas di benakku, bagaimana kalau aku mampir ke rumahnya.
“Kalau gitu, aku mampir ke rumahmu ya?
Terlihat di wajahnya ia sangat terkejut, tapi ia segera menganggukkan kepala setelah aku paksa.
Rumah gadis itu sempit sekali, tidak ada ruang tamu, tapi satu ruangan berisi kamar ukuran kecil sekali yang diabatasi tirai kelambu dengan ruang makan dan sebagainya. Ia hanya tinggal berdua saja dengan ibunya. Sambil menikmati kolak pisang aku mengobrol dengannya meski aku harus bersabar menunggu jawabannya, yang ia tumpahkan dalam tuilisan di note booknya yang halaman depannya penuh beerisi coretan hitung-hitungan hasil penjualan kolak pisangnya.
“Oh iya, ibumu mana?”
Di kamar sedang tidur.
“Kalau boleh tau , ibumu sakit apa?
“Mungkin karena kecapekan, karena berdesak-desakkan mengambil BLT. Hari pertama ibu, terpaksa harus kembali dengan tangan kosong, karna pembagian BLT harus dilanjutkan keesokkan harinya. Hari kedua baru ibu dapat mencairkan dana tersebut, hasilnya, 2 hari ibu tidak bisa berjualan kolak dan 2 hari ibu harus berdesak-desakkan. Sampai-sampai, sepulangnya, badan ibu langsung panas.
Kasihan sekali gadis ini, harus menanggung beban seberat itu. Hebatnya dia tidak mengeluh, meski harus menggantikan ibunya berjualan kolak pisang di terminal. Diam-diam aku sangat malu atas sikapku kepada ibu. Berkali-kali aku mengatainya cerewet. Tuhan..maafkan kesalahanku, cerewetnya ibu, mungkin itu kebaikkan untukku.
Sesampai di rumah, tanpa disuruh aku langsung melepas seragam, dan meletakkan sepatu pada tempatnya, tidak tanggung-tanggung aku menyapu dan mencuci piring tanpa disuruh, dan ternyata ada kepuasan sendiri untukku. Ibu melihatku dengan terheran-heran, anehnya beliau tidak berkomentar. Aku jadi merindukan komentar cerewetnya. Saat ibu tertidur, diam-diam aku melihat wajahnya, kasihan ibu harus merawat ketiga anaknya sendiri, tanpa ayahku, karena pekerjaan beliau yang sering keluar kota. Pantas saja beliau sering cerewet masalah kedisiplinan. Terbayang, seandainya ibu sudah tidak ada, aku pasti sudah gila, aku takut sekali jika membayangkan hal itu. Dulu sekali, aku sering melihat ibu ketika ibu tidur, kadang aku memastikan dadanya yang naik turun, karna bernafas, dan pernah suatu saat aku panik ketika dadanya tidak bergerak sama sekali, maka langsung saja kau mengguncang tubuh ibu. Dan ketika ibu terbangun dengan terkaget-kaget, aku segera lari menjauh, tanpa meninggalkan penjelasan sama sekali kepada ibu. Mengapa aku membangunkannya sekeras itu. Dan pastinya ibu sudah marah-marah karna aku sudah membuatnya kaget. Dan aku bersyukur sekali ibuku masih baik-baik saja.
Gadis bisu itu sudah memberikan pelajaran yang sangat berharga untukku. Bagiku dia benar-benar gadis luar biasa yang pernah aku kenal. Aku akan sangat-sangat berterimakasih padanya. Dia sudah merubah rumahku, yang selama ini aku anggap hampir kiamat, menjadi istana yang sangat nyaman bagiku.

By Niens

Abu Nawas mendemo tuan Kadi



Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Ada dua orang tamu datang ke rumahnya. Yang seorang adalah wanita tua penjual kahwa, sedang satunya lagi adalah seorang pemuda berkebangsaan Mesir.

Wanita tua itu berkata beberapa patah kata kemudian diteruskan dengan si pemuda Mesir. Setelah mendengar pengaduan mereka, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab mereka.

"Sekarang pulanglah kalian. Ajak teman-teman kalian datang kepadaku pada malam hari ini sambil membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu."

Murid-murid Abu Nawas merasa heran, namun mereka begitu patuh kepada Abu Nawas. Dan mereka merasa yakin gurunya selalu berada membuat kejutan dan berada di pihak yang benar.

Pada malam harimya mereka datang ke rumah Abu Nawas dengan membawa peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas,"Hai kalian semua! Pergilah malam hari ini untuk merusak Tuan Kadi yang baru jadi."

"Hah? Merusak rumah Tuan Kadi?" gumam semua muridnya keheranan.

"Apa? Kalian jangan ragu. Laksanakan saja perintah gurumu ini!" kata Abu Nawas menghapus keraguan murid-muridnya. Barangsiapa yang mencegahmu, jangan kau perdulikan, terus pecahkan saja rumah Tuan Kadi yang baru. Siapa yang bertanya, katakan saja aku yang menyuruh merusak. Barangsiapa yang hendak melempar kalian, maka pukullah mereka dan iemparilah dengan batu."

Habis berkata demikian, murid-murid Abu Nawas bergerak ke arah Tuan Kadi. Laksana demonstran mereka berteriak-teriak menghancurkan rumah Tuan Kadi. Orang-orang kampung merasa heran melihat kelakukan mereka. Lebih-lebih ketikatanpa basa-basi lagi mereka iangsung merusak rumah Tua Kadi. Orang-orang
kampung itu berusaha mencegah perbuatan mereka, namun karena jumlah murid-murid Abu Nawas terlalu banyak maka orang-orang kampung tak berani mencegah.

Melihat banyak orang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya,"Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?"

Murid-murid itu menjawab,"Guru kami Tuan Abu Nawas yang menyuruh kami!"

Habis menjawab begitu mereka bukannya berhenti malah terus menghancurkan rumah Tuan Kadi hingga rumah itu roboh dan rata dengan tanah.

Tuan Kadi hanya bisa marah-marah karena tidak orang yang berani membelanya "Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Besok pagi aku akan melaporkannya kepada Baginda."

Benar, esok harinya Tuan Kadi mengadukan kejadian semalam sehingga Abu Nawas dipanggil menghadap Baginda.

Setelah Abu Nawas menghadap Baginda, ia ditanya. "Hai Abu Nawas apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu"

Abu Nawas menjawab,"Wahai Tuanku, sebabnya ialah pada sliatu malam hamba bermimpi, bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya.

Sebab rumah itu tidak cocok baginya, ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi.Ya, karena mimpi itu maka hamba merusak rumah Tuan Kadi."

Baginda berkata," Hai Abu Nawas, bolehkah hanya karena mimpi sebuah perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?"

Dengan tenang Abu Nawas menjawab,"Hamba juga memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku."

Mendengar perkataan Abu Nawas seketika wajah Tuan Kadi menjadi pucat. la terdiam seribu bahasa.

"Hai Kadi benarkah kau mempunyai hukum seperti itu?" tanya Baginda.

Tapi Tuan Kadi tiada menjawab, wajahnya nampak pucat, tubuhnya gemetaran karena takut.

"Abu Nawas! Jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada peristiwa seperti ini !" perintah Baginda.

"Baiklah ...... "Abu Nawas tetap tenang. "Baginda.... beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi kawin dengan anak Tuan Kadi dengan mahar (mas kawin) sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda Mesir itu tak mau membayar mahar hanya karena mimpi. Nah, di sinilah
terlihat arogansi Tuan Kadi, ia ternyata merampas semua harta benda milik pemuda Mesir sehingga pemuda itu menjadi seorang pengemis gelandangan dan akhirnya ditolong oleh wanita tua penjual kahwa."

Baginda terkejut mendengar penuturan Abu Nawas, tapi masih belum percaya seratus persen, maka ia memerintahkan Abu Nawas agar memanggil si pemuda Mesir. Pemuda Mesir itu memang sengaja disuruh Abu Nawas menunggu di depan istana, jadi mudah saja bagi Abu Nawas memanggil pemuda itu ke hadapan Baginda.

Berkata Baginda Raja,"Hai anak Mesir ceritakanlah hal-ihwal dirimu sejak engkau datang ke negeri ini."

Ternyata cerita pemuda Mesir itu sama dengan cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itu juga membawa saksi yaitu Pak Tua pemilik tempat kost dia menginap. "Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang bejad moralnya."

Baginda sangat murka. Kadi yang baru itu dipecat dan seluruh harta bendanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir.

Setelah perkara selesai, kembalilah si pemuda Mesir itu dengan Abu Nawas pulang ke rumahnya. Pemuda Mesir itu hendak membalas kebaikan Abu Nawas.

Berkata Abu Nawas,"Janganlah engkau memberiku barang sesuatupun kepadaku. Aku tidak akan menerimanya sedikitpun jua."

Pemuda Mesir itu betul-betul mengagumi Abu Nawas. Ketika ia kembali ke negeri Mesir ia menceritakan tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi sangat terkenal.

Abu nawas mati

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.

"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu."

"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak."

"Apa?"

"Raja kujadikan budak!"

"Kenapa kau lakukan itu suamiku."

"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara."

"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu."

"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku."

"Pasti kau akan dihukum berat."

"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,"

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.

Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.

"Ada apa?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.

"Huuuuuu .... suamiku mati....!"

"Hah! Abu Nawas mati?"

"lyaaaa....!"

Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.

Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.

"Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?"

"Ada Paduka yang mulia." kata istri Abu Nawas sambil menangis.

"Katakanlah." kata Baginda Raja.

"Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat." kata istri Abu Nawas terbata-bata.

"Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas." kata Baginda Raja menyanggupi.

Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, "Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya."

Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, "Syukuuuuuuuur ...... !"

Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder
juga.

"Kau... kau.... sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?" tanya Baginda dengan gemetar.

"Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku."

"Jadi kau masih hidup?"

"Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang."

"Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?

"Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia..."

"Ajarkan ilmu itu kepadaku..."

"Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri."

"Dasar pelit !" Baginda menggerutu kecewa.



"ABU'NAWAS manusia 1001 akal"

Harga kasih sayang ibu

Suatu ketika, seorang anak mendatangi ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.Kemudian dia memberikan selembar kertas kepada sang ibu, sang ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diberikan oleh si anak dan membacanya :

Ongkos upah membantu ibu:
• Membantu Pergi Ke Warung : Rp. 20.000
• Menjaga adik : Rp. 20.000
• Membuang sampah : Rp. 5.000
• Membereskan Tempat Tidur : Rp. 10.000
• menyiram bunga : Rp. 15.000
• Menyapu Halaman : Rp. 15.000

• Jumlah : Rp. 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

• Ongkos mengandungmu selama 9 bulan : GRATIS
• Ongkos berjaga malam karena menjagamu : GRATIS
• Ongkos air mata yang menetes karenamu : GRATIS
• Ongkos Khawatir karena memikirkan keadaanmu : GRATIS
• Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu : GRATIS
• Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku : GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah sang ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya:

" Telah Dibayar.."

sekarang kita yang masih muda cuman bisa ngerepotin IBU dan LEBIH SENENG REPOT NGURUS PACAR.
contoh nya kalian sering banget sibuk sms cowo/cewe kalian "udah makan blum?" "lagi apa sayang?" "met bobo ya sayang"
Pernah ga sih kalian semua kepikiran buat sekali-kali sms IBU kalian kayak gitu?? mereka juga mungkin terkadang iri ngeliat kalian seneng saat ngurusin pacar, sedangkan mereka hanya diabaikan begitu saja, mereka terkadang merasa tugasnya hanya untuk menyanyangi tak pantas di sayangi.
Bagaimana perasaan mereka yang tau kalian semua antar sesama cowo/cewe sangatlah peratian, padahal orang-orang itu baru ngenal kalian saat agan berwujud"sudah lahir". BAYANGIN IBU KALIAN SEKARANG!!!!!!!
"UDAH MENGENAL KALIAN 9 BULAN SEBELUM KALIAN BERWUJUD!!" aku cuma pengen nanya sama kalian semua udah belum kalian PERHATIAN SAMA IBU? udah belum KALIAN BERBAKTI SAMA IBU?

Sang Preman insaf

Godam adalah pimpinan preman dikampungnya. Selain kejam, ia juga raja tega. Dibesarkan oleh bapaknya yang mantan preman bernama Pak Sarip yang dulu dikenal sebagai Sarif Saraf, Godam tumbuh menjadi lelaki yang biasa bergelimang di dunia kejahatan. Ibunya meninggal karena makan hati bersuamikan preman jahat.

Godam yang sebenarnya tampan ini belajar ilmu dan bertapa ke beberapa tempat dan orang pintar. Hasilnya, Godam punya ilmu tinggi, tahan bacok dan kebal peluru. Ia pun berteman dengan jin jahat. Tak heran semua orang takut pada Godam. Ia menjadi preman yang sangat disegani diwilayah, namun Godam justru memanfaatkan ilmunya untuk hal yang tidak baik. ia menjadi perampok dan preman, ia juga mengkoordinir para copet dan pengemis.

Sore itu Godam menerima setoran dari para pengemis yang jadi anak buahnya. Dia marah-marah karena beberapa orang menyetor kurang dari yang ditetapkan. Ia lalu menampar beberapa orang, termasuk seorang perempuan hamil yang dikatakan malas dan sok manja. Ia tidak peduli dengan keadaan perempuan tersebut. Kadang Godam juga menendang anak buahnya yang tengah sholat.

Meskipun jahat, namun GOdam sayang dengan anak kecil. Mungkin karena dibesarkan sebagai anak tunggal, hatinya tersentuh jika melihat anak kecil. Seorang pengemis yang bernama Diding sering dibelanya dan dimanja sehingga besar kepala. Diding sering sok dan berbuat sesuka hatinya karena tau Godam pasti membelanya jika ia diganggu.

Mosan, tangan kanan Godam yang licik dan suka mengambil uang setoran itu sangat benci dengan Diding. Demikian pula juga dengan Ineke, banci yang aslinya bernama Tohir dan mengajarkan pelajaran make-up serta akting kepada para pengemis juga kesal dengan Diding. Sebenarnya Ineke naksir Godam, tapi diacuhkan. Sementara Mosan suka mencari muka pada Godam dan menutupi kelakuannya yang suka mengambil uang.

Dari hasilnya menjadi preman, Godam bisa mempunyai rumah yang lumayan bagus. Namun, ia belum punya istri. Padahal Pak Sarif sudah ingin sekali menimang cucu. Sebenarnya banyak perempuan yang ingin menikah dengan Godam, tapi ia menolak karena ia tahu hanya perempuan nakal dan tidak baik saja yang mau menikah dengannya.

Godam malahan naksir gadis yang soleh dan rajin sholat. Ia pun bingung dengan pilihannya itu, bahwa menyangka dirinya telah dipelet oleh perempuan tersebut, namun Mosan tidak setuju hal tersebut.

Di desa itu ada perawan cantik bernama Hadijah, dia tamatan SMA. Hadijah yang bekerja disebuah restoran cepat saji ini berperangai halus budi bahasanya. Dan Godam pun suka sekali dengannya. Karena kurang percaya diri, Godam hanya berani mengirimkan barang-barang berharga ke rumah Hadijah.

Hadijah sendiri sebenarnya ingin mengembalikan hadiah dari Godam. Namun, Cing Saribune, tante Hadijah yang gemuk dan perawan tua selalu menerima hadiah tersebut dengan gembira. Jika bertemu dengan Hadijah, Godam yang biasa kejam dengan anak buahnya menjadi malu-malu. Terlebih lagi jika Hadijah mengacuhkannya, Godam pun merasa serba salah karena merasa Hadijah tidak mau jadi istrinya.

Belum lagi Pak Sarif ternyata suka dengan Bu Latifah, ibu dari Hadijah. Godam dan bapaknya pun jadi sering bertemu di dekat rumah Hadijah. Namun Pak Sarif gengsi mengakui sering lewat situ karena naksir pemilik rumahnya.

Kisah cinta Godam makin bertepuk sebelah tangan ketika seorang pemuda pengurus pesantren bernama Arifin mendekati Hadijah. Dibandingkan dengan Godam, sifat Arifin bertolak belakang. Ia memiliki misi untuk mengajak para preman kembali ke jalan yang benar dan melakukan perintah agama.

Namun dikalangan preman, Arifin di tolak mentah-mentah, bahkan Godam marah-marah padanya dan mengompori penduduk lain yang puasa agar tidak puasa. Namun walaupun diberlakukan kasar, Arifin tetap tabah dan tidak surut mengajak para preman kembali beribadah.

Untungnya Pak Sarif, punya teman preman tua yang sudah insaf dan kini sering berdakwah sebagai Ustad dan ia pun mendukung niat dari Arifin.

Bu Latifah menyambut gembira kedatangan Arifin, ia merasa bahagia karena anaknya akan dipersunting oleh lelaki yang tinggi ilmu agamanya. Akan tetapi Cing Saribanun tidak senang karena Arifin miskin dan tidak pernah bwaa oleh-oleh. Sebenarnya ia suka Mosan dan ia pun pro kepada Godam dan menjadi mata-mata Godam soal hubungan Hadijah dengan Arifin.

Sementara itu, Godam didesak ayahnya untuk memberanikan diri mendekati Hadijah. Setelah dibantu oleh para preman, akhirnya ia mendapat jawaban bahwa Hadijah tidak suka dan tidak ingin berhubungan dengan lelaki yang jauh dari agama.

Godam pun menjadi dilematis, ia tahu bahwa ilmu yang di milikinya adalah ilmu hitam. Jika ia mulai sholat dan puasa, maka ilmu itu akan hilang sedikit demi sedikit.

Kala seorang anak buahnya meninggal ketika hendak mencuri motor, Godam kaget. Ia ikut mengantar almarhum ke kuburan. Liang kubur yang sudah digali lebar ternyata tidak muat, sebab liang itu malahan menyempit. Ketika dilebarkan, tetap saja tidak muat. Arifin pun berkata bahwa mayat tersebut tidak diterima bumi karena terlalu banyak kesalahan dan dosa yang telah dibuat selama hidup. Akhirnya mayat tersebut di tekuk dan dikubur dalam posisi tersebut.

Godam pun merenung, ia menyadari betapa sesat jalan hidupnya. Godam yang tadinya tidak simpati terhadap Arifin, berniat belajar agama padanya. Dan ia bahkan akan merelakan sebagian uangnya untuk membangun pesantren. Hadijah yang diberi tahu Arifin tetap tidak menganggap niat Godam untuk serius dalam agama, namun Arifin semakin simpati padanya karena Godam menunjukkan minatnya menjadi orang baik.

Mendalami agama ternyata berpengaruh terhadap ilmu kesaktian Godam. Diam-diam Godam sudah belajar sholat dan puasa. Akibatnya ilmu yang dimilikinya menjadi tak berdaya. Itulah sebabnya Godam bisa babak beluk ketika dihajar preman saingannya. Arifin datang hendak menyelamatkan Godam, namun keburu meninggal karena tebasan golok musuh Godam. Arifin pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan pesan pada Godam untuk membangun pesantren dan menjaga Hadijah. Hadijah pun merasa sedih karena Arifin telah tiada, gadis yang baru saja ditinggal mati ayahnya dua tahun lalu itupun meratap sedih. Ia heran mengapa semua orang yang disayanginya meninggal, ia pun takut jatuh cinta lagi.

Setelah ilmunya hilang, orang-orang yang dulu membenci Godam membalas dendam. Mosan sang tangan kanan pun berkhianat. Ia menghajar Godam habis-habisan dan memproklamirkan diri bahwa dialah kini bos preman. Godam tidak menyesal anak buahnya tidak lagi mengikutinya lagi, ia pun rela kehilangan ilmu kesaktian karena merasa telah menemukan ALLAH.

Sumber: Jamal

Tipu dibalas Tipu

Ada seorang Yogis (Ahli Yoga) mengajak seorang Pendeta bersekongkol akan memperdaya Iman Abu Nawas. Setelah mereka mencapai kata sepakat, mereka berangkat menemui Abu Nawas di kediamannya.

Ketika mereka datang Abu Nawas sedang melakukan salat Dhuha. Setelah dipersilahkan masuk oleh istri Abu Nawas mereka masuk dan menunggu sambil berbincang-bincang santai.

Seusai salat Abu Nawas menyambut mereka. Abu Nawas dan para tamunya bercakap-cakap sejenak.

"Kami sebenarnya ingin mengajak engkau melakukan pengembaraan suci. Kalau engkau tidak keberatan bergabunglah bersama kami." kata Ahli Yoga.

"Dengan senang hati. Lalu kapan rencananya?" tanya Abu Nawas polos.

"Besok pagi." kata Pendeta.

"Baiklah kalau begitu kita bertemu di warung teh besok." kata Abu Nawas menyanggupi.

Hari berikutnya mereka berangkat bersama. Abu Nawas mengenakan jubah seorang Sufi. Ahli Yoga dan Pendeta memakai seragam keagamaan mereka masing-masing. Di tengah jalan mereka mulai diserang rasa lapar karena mereka memang sengaja tidak membawa bekal.

"Hai Abu Nawas, bagaimana kalau engkau saja yang mengumpulkan derma guna membeli makanan untuk kita bertiga. Karena kami akan mengadakan kebaktian." kata Pendeta. Tanpa banyak bicara Abu Nawas berangkat mencari dan mengumpulkan derma dari dusun satu ke dusun lain. Setelah derma terkumpul, Abu Nawas membeli makanan yang cukup untuk tiga orang. Abu Nawas kembali ke Pendeta dan Ahli Yoga dengan membawa makanan. Karena sudah tak sanggup menahan rasa lapar Abu Nawas berkata, "Mari segera kita bagi makanan ini sekarang juga."

"Jangan sekarang. Kami sedang berpuasa." kata Ahli Yoga.

"Tetapi aku hanya menginginkan bagianku saja sedangkan bagian kalian terserah pada kalian." kata Abu Nawas menawarkan jalan keluar.

"Aku tidak setuju. Kita harus seiring seirama dalam berbuat apa pun:" kata Pendeta.

"Betul aku pun tidak setuju karena waktu makanku besok pagi. Besok pagi aku baru akan berbuka." kata Ahli Yoga.

"Bukankah aku yang engkau jadikan alat pencari derma Dan derma itu sekarang telah kutukar dengan makanan ini. Sekarang kalian tidak mengijinkan aku mengambil bagian sendiri. Itu tidak masuk akal." kata Abu Nawas mulai merasa jengkel. Namun begitu Pendeta dan Ahli Yoga tetap bersikeras tidak mengijinkan Abu Nawas mengambil bagian yang menjadi haknya.

Abu Nawas penasaran. la mencoba sekali lagi meyakinkan kawan-kawannya agar mengijinkan ia memakan bagianya. Tetapi mereka tetap saja menolak.

Abu Nawas benar-benar merasa jengkel dan marah. Namun Abu Nawas tidak memperlihatkan sedikit pun kejengkelan dan kemarahannya.

"Bagaimana kalau kita mengadakan perjanjian." kata Pendeta kepada Abu Nawas.

"Perjanjian apa?" tanya Abu Nawas.

"Kita adakan lomba. Barangsiapa di antara kita bermimpi paling indah maka ia akan mendapat bagian yang terbanyak yang kedua lebih sedikit dan yang terburuk akan mendapat paling sedikit." Pendeta itu menjelaskan.

Abu Nawas setuju. la tidak memberi komentar apa-apa.

IVfalam semakin larut. Embun mulai turun ke bumi. Pendeta dan Ahli Yoga mengantuk dan tidur. Abu Nawas tidak bisa tidur. la hanya berpura-pura tidur. Setelah merasa yakin kawan-kawannya sudah terlelap Abu Nawas menghampiri makanan itu. Tanpa berpikir dua kali Abu Nawas memakan habis makanan itu
hinggatidak tersisa sedikit pun. Setelah merasa kekenyangan Abu Nawas baru bisa tidur.

Keesokan hari mereka bangun hampir bersamaan. Ahli Yoga dengan wajah berseri-seri bercerita, "Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirvana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya dalam hidup ini."

Pendeta mengatakan bahwa mimpi Ahli Yoga benar-benar menakjubkan. Betulbetul luar biasa. Kemudian giliran Pendeta menceritakan mimpinya.

"Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Dan temyata memang benar. Aku secara tidak sengaja berhasil menyusup ke masa silam dimana pendiri agamaku hidup. Aku bertemu dengan beliau dan yang lebih membahagiakan adalah aku diberkatinya."

Ahli Yoga juga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta, Abu Nawas hanya diam. la bahkan tidak merasa tertarik sedikitpun.

Karena Abu Nawas belum juga buka mulut, Pendeta dai Ahli Yoga mulai tidak sabar untuk tidak menanyakan mimpi Abu Nawas.

"Kalian tentu tahu Nabi Daud alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang ahli berpuasa. Tadi malam aku bermimpi berbincang-bincang dengan beliau. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Aku katakan aku berpuasa karena aku memang tidak makan sejak dini hari Kemudian beliau menyuruhku segera
berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikan perintah beliau. Aku segera bangun dari tidur dan langsung menghabiskan makanan itu." kata Abu Nawas tanpa perasaa bersalah secuil pun.

Sambil menahan rasa lapar yang menyayat-nyayat Pendeta dan Ahli Yoga saling berpandangan satu sama lain.

Kejengkelan Abu Nawas terobati.

Kini mereka sadar bahwa tidak ada gunanya coba-coba mempermainkan Abu Nawas, pasti hanya akan mendapat celaka sendiri...

Dua pendekar konyol turun gunung

Pagi itu di puncak gunung gede terlihat dua sosok manusia yang sedang duduk di atas batu besar,mereka berdua adalah sepasang bersaudara murid eyang ismaya,yang satu adalah seorang gadis berkulit putih,hidungnya agak mancung dan rambutnya panjang tergerai,namanya adalah megha,sedangkan yang satu lagi adalah seorang pemuda tinggi gagah,rambutnya yang panjang seleher itu ia kuncir seperti ekor kuda,namanya adalah rendra,sejak sedari tadi mereka berdua tertawa terbahak-bahak karena terus bercanda,tiba-tiba dari dalam gubug keluarlah seorang kakek mengenakan sorban dan memegang tasbih di tangan kanannya yang tidak lain adalah eyang ismaya adanya,

"megha,,,,rendra,,,,cepat kemari",mendengar seruan gurunya segera saja kedua bersaudara itu datang menghampiri,setelah mereka menjura hormat eyang ismaya terdiam sesaat lalu berkata,

"tujuh tahun aku mendidik kalian dan melatih kalian,kini tiba saatnya bagi kalian untuk turun gunung,ingat pesanku,ilmu yang kuajarkan kepada kalian bukan untuk pamer,tapi untuk membela yang benar dan memberantas kebatilan,berbuat baiklah kalian selama dalam pengembaraan",

seketika itu juga megha menitikkan air matanya,lain lagi dengan rendra,pemuda itu hanya terdiam namun mukanya menunjukkan rasa sedih yang teramat dalam,setelah keduanya pamit merekapun mulai meninggalkan gurunya untuk menuju dunia luar.

sampai saat itu megha masih saja menangis sesengukan,karena merasa risih dan terheran-heran rendra mencoba menegurnya,

"hei sista,kenapa koe malah mewek terus?,aku tau berat meninggalkan guru,tapi memang ini sudah menjadi takdir gusti allah",megha masih tetap sesengukan lalu berkata,

"bukan itu yang aku tangisi",rendra semakin tidak mengerti,"what?lalu apa yang koe tangiskan?",

sambil pegangi perutnya megha menjawab,"aku lapar,sejak kemarin sore aku belum makan,sebab jatah makanku di ambil monyet-monyet hutan sewaktu aku tinggal ke dapur",rendra leletkan lidah mendengar ucapan megha,

"yasudah,koe jangan nangis lagi sista,nanti kalau kita lihat rumah makan kita makan disana okey",

kemudian megha hentikan tangisnya itu lalu tiba-tiba dia pasang kuda-kuda,ini membuat rendra bingung dan tercengang,sebab tidak ada musuh saudaranya malah pasang kuda-kuda siap untuk bertarung,belum sempat rendra bertanya tiba-tiba tercium aroma yang sangat menusuk hidung dan berbau busuk.

megha tertawa terbahak-bahak sambil melanjutkan perjalanan,sementara rendra berjalan sambil menutup hidungnya seraya memaki panjang pendek,"dasar gemblung,kalau mau buang angin ya buang saja,gak usah pakai tenaga dalam segala,awas saja nanti,akan aku balas",

rupanya megha baru saja buang angin,karena saking hebatnya tenaga dalam yang di gunakan megha,suara kentutnya tak terdengar sama sekali namun dampaknya luar biasa,kedua orang itu berjalan sambil mengobrol-ngobrol,sesekali terdengar gelak tawa mereka,namun ketika mereka melewati sebuah kampung langkah mereka terhenti,dilihatnya kampung itu sudah porak poranda,sepertinya kampung itu habis di rampok,di sudut desa tergeletak beberapa mayat,

"masya allah,semurah inikah nyawa manusia?",yang berkata adalah rendra,lalu megha menimpali,"hmm,,,kalau aku ketemu sama pelakunya,aku akan habisi tanpa ampun".karena merasa iba mereka menguburkan mayat-mayat itu satu persatu,setelah semuanya selesai merekapun melanjutkan perjalanan kembali.

setelah beberapa lamanya berjalan mereka melihat sebuah rumah makan yang cukup besar,kontan saja megha segera pergunakan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat lalu mendarat tepat di depan pintu rumah makan,lalu rendra menyusul saudaranya itu dari belakang,seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah,

"silahkan kisanak ambil tempat duduk",kemudian kedua pendekar muda itu memilih tempat duduk,megha berkata kepada sang pelayan,

"aku pesan ayam bakar dua porsi",rendra lalu menimpali,"aku pesan ikan bakar saja satu porsi",

tak lama kemudian pesananpun datang dan mereka makan dengan lahapnya,ketika sedang asik-asiknya makan terdengar satu suara,"duuutttt",semua orang yang ada di rumah makan itu berhamburan keluar sambil megap-megap,sementara megha masih asik menyantap makanannya seolah tak terjadi apa-apa,rendra geleng-gelengkan kepalanya sambil mesem-mesem dan berkata,

"hei,,sista,kau keterlaluan sekali,dalam keadaan begini masih sempat-sempatnya kau membuang angin",namun megha tetap cuek sambil menyantap makanannya,pemilik kedai dan pelayannya terbengong-bengong melihat kelakuan megha itu.

setelah selesai makan mereka beristirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol,namun tiba-tiba datang dua orang berbadan tinggi besar berewok dan masing-masing membawa golok besar,semua orang berlarian ketakutan kecuali dua pendekar muda itu,salah seorang dari pria berbadan besar itu menatap ke arah megha dan rendra lalu menghampiri mereka dan membentak,

"bocah ingusan!!,kenapa kalian masih disini?lekas menyingkir!",

rendra menyahuti,"siapa bertanya ke siapa?",orang yang menegur itu menjadi kesal mendengar perkataan rendra,

"kalian berdua cari mampus rupanya",ketika orang itu hendak menampar rendra,pemuda itu hantamkan jotosan ke perut si brewok dengan tenaga dalamnya,kontan saja si brewok terpental meniban tubuh kambratnya yang berdiri di ujung pintu,

"bangsat!!,kalian berani cari gara-gara dengan kami",

kemudian dua orang brewok itu hunuskan goloknya dan maju menerjang rendra dan megha yang sedang asik memakan pisang,melihat adanya bahaya segera saja dua bersaudara itu melompat keluar kedai,sehingga golok itu hanya mendapati tempat kosong,sampai di luar megha berkata,

"hei dua kunyuk brewok kesasar,kalau kalian berani ayo keluarlah",semakin geramlah kedua brewok itu,lalu segera saja dua lelaki brewok itu melompat menghampiri megha.

ketika sepasang brewok itu maju menerjang,megha melompat setinggi dua tombak lalu dengan gerakan secepat kilat dia hantamkan dua tendangan sekaligus dan berhasil membuat dua brewok itu tersungkur lalu jatuh pingsan,rendra hanya garuk-garuk kepala sambil berjongkok melihat hal itu,

"huuh,,cuma cecunguk-cecunguk kecil saja lagaknya sok amat",

lalu rendra berdiri dan menghampiri kedua sosok brewok yang telah pingsan itu,

"hm..enaknya di apain yah?",lalu megha berkata,"ikat saja di pohon itu,biar penduduk sini yang menghukum mereka",

rendra manggut-manggut mendengar perkataan saudaranya itu,setelah mereka mengikat kedua brewok itu megha menghampiri pelayan kedai untuk membayar makanan,sambil terbengong-bengong kagum pelayan itu menerima uang pemberian megha,ketika dua pendekar muda itu hendak bertindak tiba-tiba terdengar suara tawa yang di aliri dengan tenaga dalam sehingga membuat telinga dua pendekar muda itu pekak dan sakit,lalu tak lama muncullah sosok seorang lelaki di hadapan mereka,lelaki ini bertampang bengis dan kejam,tubuhnya tinggi besar dan kumisnya melintang,lalu dari pinggangnya ia hunuskan sebuah sabit aneh yang ukurannya tiga kali lipat dari sabit biasanya.

sambil puntir-puntir kumisnya yang melintang itu dia membentak,

"bedebah!,kalian berani mencelakai anak buahku,kalian harus mampus sekarang juga",

lalu orang itu hantamkan sabit besarnya dengan sabat ke arah megha dan rendra,"wuut",angin yang keluar dari sabit itu begitu mengerikan,untunglah sepasang murid eyang ismaya itu segera menghindar,kalau tidak celakalah mereka di buatnya,megha coba menyerang namun serangannya berhasil di patahkan karena sabit itu begitu gesit dan lincah,

"oalah,,gile betul ini sabit,,gede-gede gak boong,,"

rendra pun menjadi penasaran dan coba menyerang namun sia-sia saja,agaknya mereka menghadapi lawan yang bukan sembarangan,bagaimana tidak,setiap kali mereka lakukan serangan selalu saja berhasil di elakkan,sambil masih terus menyerang rendra coba putar otaknya,dia teringat akan pesan gurunya bahwa segala sesuatu di dunia memiliki kelemahan,seolah menyadari sesuatu rendra menepuk dahinya sambil memaki diri sendiri,

"aduh,,bodohnya aku ini ,kenapa baru kepikiran",

lalu rendra mundur beberapa tombak sambil menyusupkan ilmu menyusupkan suara kepada megha,

"sista,aku ada akal,aku akan melancarkan pukulan angin topan prahara,lalu kau pergunakan jurus elang memburu harimau,",seolah mengerti megha mengangguk dan mundur dari pertarungan.

rendra majukan kedua tangannya lalu lancarkan pukulan topan prahara,tiba-tiba sesiur angin deras menghambur ke arah lawannya yang memegang arit besar itu,lawannya yang memegang arit mencoba untuk menahan pukulan topan prahara yang di lancarkan rendra dengan senjatanya,namun angin yang menghantam begitu dahsyat sehingga sabit besar itu terlepas dari genggamannya,kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh megha,gadis itu melompat untuk pergunakan jurus elang memburu harimau,dengan gerakan kilat tangganya yang laksana cakar elang menghantam kepala lawannya,"hekk",lelaki besar itu mengeluarkan darah segar lalu melosoh jatuh,megha menarik nafas panjang lalu rendra menghampirinya dan berkata,

"sista,kau jalan duluan,nanti aku menyusul",

"heh,,memangnya kenapa?",

rendra tersenyum lalu menjawab sambil menunjuk ke arah dua lelaki brewok yang terikat,"ada yang musti aku perbuat dengan dua orang brewok itu",

megha kernyitkan keningnya lalu menimpali,

"yasudah,terserah kau sajalah,tapi ingat jangan lama-lama,nanti tertinggal baru tau rasa koe",

lalu megha pun pergi lebih dulu sementara rendra menghampiri kedua orang brewok yang masih pingsan itu,tak lama kemudian rendra menyusul megha dari belakang sambil tertawa terpingkal-pingkal,

"heh,,kau kenapa?apa yang kau perbuat terhadap dua brewok itu?kenapa sampai kau tertawa geli begitu rupa??",

megha lontarkan pertanyaan kepada saudaranya itu dengan rasapenasaran,lalu rendra menjawab sambil cengengesan,

"sista,tadi aku mencoba membangunkan mereka,tapi mereka gak mau bangun juga,dan kebetulan tadi aku kebelet pipis",

megha terdiam sesaat lalu tertawa bergelak sambil terkentut-kentut,

"aehh,,dasar sableng,jangan-jangan kau mengencingi mereka",rendra manggut-manggut sambil garuk-garuk kepalanya lalu terdengar suara tawa dari kedua pendekar muda itu.





Sumber : terry_okay007

Karena cinta

“Aku ingin memutuskan pertunangan kita, Dee” kalimat itu meluncur lancar dari mulut Andre tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Apa..Kamu ingin berpisah denganku?!” Dee memekik. Memutuskan pertunangan yang sudah berjalan selama 6 tahun,. Ini bunuh diri namanya.
“Ya, dan keputusan ini sudah aku pikirkan dengan matang.”
“Ya, tapi apa salahku sehingga kamu ingin memutuskan pertunangan ini. Bukankah kita sudah sepakat akan menikah tahun depan?” Mata Dee mulai memanas. Hatinya terasa tercabik-cabik. Tapi wajah Andre tetap tenang seolah ini bukan masalah besar.
“Kamu tidak bersalah. Aku yang bersalah karena telah membiarkan hal ini terjadi.”
“Apa yang salah, sayang?” Dee berusaha untuk menenangkan diri.
“Please, Dee. Jangan panggil aku seperti itu. Karena hanya akan menyakiti kita berdua.”Dee semakin sakit hati mendengar penolakan kata ‘ sayang ‘ yang biasanya dia ucapkan pada Andre. Akhirnya Dee memilih diam untuk mendengar alasan Andre.
“Aku berhubungan dengan seorang wanita, Shakira. Dia rekan sekerjaku. Kami sudah dua bulan memutuskan pacaran. Maafkan aku, Dee. Selama dua bulan ini aku telah mengkhianatimu.” Tangan Andre menyentuh tangan Dee, berulang-ulang tangan Dee diciuminya.
“Mungkin aku memang tidak secantik wanita yang kamu impikan, Dre. Tapi apakah aku layak menerima penghinaan ini? Tapi sudahlah, Dre. Jika kamu memang memilihnya, aku akan pergi.”Dee menarik tangannya dari genggaman Andre lalu beranjak pergi membawa rasa sakit yang tak terhingga.
***


“Mom, ijinkan aku pergi ke Canada. Kesempatan ini jangan disia-siakan, ini kesempatan aku untuk mendapatkan S2 di tempat yang bagus.” Pinta Dee pada Mom.
“Dee, kamu sudah memutuskan untuk tidak ikut beasiswa ini. Apakah karena sakit hati pada Andre kamu merubah rencana itu ?”Tanya Mom bijak. Mom pasti tahu benar apa yang dirasakan Dee. Ya, karena Andre, dia memutuskan pergi ke Canada.
“Jangan pergi sayang, jika hanya itu alasannya. Mom pikir ini tidak bijaksana bagi dirimu sendiri. Mom akan mengijinkan kamu pergi jika memang ini memang betul-betul keinginanmu, bukan untuk sebuah pelampiasan.”
“Mom, aku harus pergi. Aku tidak mau larut dalam kesedihan ini.”
“Dee, mungkin Andre memang bukan jodoh yang baik untukmu. Sebab itu dengan alasan apa pun Tuhan telah memisahkan kalian berdua.” Mom berusaha menghibur Dee. Lalu Dee menangis di pangkuan Mom. Dee begitu terpukul atas kejadian ini. Rasa kehilangan Andre membuatnya tidak yakin kalau dirinya masih hidup. Rasanya separuh dari nyawanya telah terbang ke langit bersama jutaan impian yang ingin dia raih bersama Andre. Dee begitu mencintai Andre, rasanya Andre pun demikian cinta pada Dee. Tapi cinta yang diberikan Shakira telah mampu meluluhlantakkan perasaan yang telah mereka bina bersama selama 6 tahun.
“Mom, ijinkan Dee pergi.” Dee seolah memohon kepada mom untuk mengijinkannya pergi. Jika Mom tidak mengijinkan ke Canada, Dee akan pergi kemana pun yang Mom ijinkan. Asal tempat itu jauh dari sini, dimana kenangan akan Andre terus membayanginya, menyiksanya, dan menenggelamkannya dalam lautan airmata.
“Baiklah, jika itu memang dapat membuatmu lebih bahagia. Dan dapat memberikan suatu perubahan pada hatimu. Mom hanya ingin kamu melupakan apa yang terjadi, lupakan masa lalu dan raih masa depanmu.” Akhirnya Mom mengijinkan Dee pergi.
“Terima kasih, Mom. “Dee semakin mempererat pelukannya.
***


Tiga tahun kemudian.
Mom menjemput Dee di bandara.
“Dee, Mom kangen sekali sama kamu.” Mom memeluk Dee seerat mungkin.
“Dee juga, Mom.” Rasa haru menyelimuti Dee. Akhirnya Dee kembali ke Indonesia setelah tiga tahun mengasingkan diri.
Mom menyetir sendiri.
“Sejak kapan Mom memiliki mobil?” Tanya Dee. Rasanya aneh Mom menyetir. Biasanya Mom kemana-mana naik taksi.
“Sejak kamu pergi. Mom kesepian sekali di rumah, Dee. Kucing-kucingmu juga demikian. Karena itulah mereka semua minggat.” Ups, Dee jadi lupa pada tujuh ekor kucing yang ditinggalkannya pergi. Apa benar kucing-kucing itu minggat semua dari rumah gara-gara kesepian tanpa aku, dan Mom menyetir sendiri agar bisa jalan-jalan karena juga kesepian tanpa aku, tapi apakah Andre juga kesepian begitu ditinggal olehku? Dee bertanya-tanya dalam hati. Andre tak mungkin menyesali kepergiannya, bukankah dia telah memiliki Shakira yang cantik dan menawan.
“Kok melamun?” pertanyaan Mom membuyarkan lamunan Dee. Dee menggeleng pelan. Kenapa harus selalu ingat Andre, seharusnya Dee membenci Andre yang telah menendangnya dari impian cinta. Tapi untuk apa membenci Andre, kebencian takkan membawa Andre kembali padanya. Mom benar, Andre bukan jodoh yang baik untuknya. Kalau bukan karena Andre, Dee akan kehilangan kesempatan meraih S2 dan memperoleh karier yang sedemikian cemerlang sebagai seorang Arsitek. Ada hal buruk dan hal baik yang harus dia pikirkan untuk memutuskan apakah Dee harus membenci atau justru berterima kasih pada mantan tunangannya itu.
“Aku hanya mencoba mengingat lagi kenangan di sini.”
“Oh, forget it. You have a good future, honey. Lupakan masa lalu, Dee. O, ya Mom hampir lupa. Kemaren ada undangan pameran lukisan dari temanmu.” Ujar Mom sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna pink. Temanku? Tapi siapa yang mengundangku? Pertanyaan itu berkecamuk di dada Dee. Bukankah tak ada seorang teman pun yang tahu kepulangannya hari ini.
“Siapa Mom?” Tanya Dee, Mom menggeleng pelan.
Tapi sudahlah siapa pun yang mengundang tak perlu diributkan, yang jelas Dee memang sudah rindu berat dengan lukisan-lukisan indah.
***


Dee menghirup wangi cat yang berasal dari lukisan yang di pajang di ruang pameran. Hati Dee begitu bahagia dapat memanjakan matanya melihat lukisan-lukisan itu.
“Dee..” sebuah suara laki-laki membuyarkan konsentrasinya.
“Ya..”Dee kaget saat melihat seorang laki-laki dengan wajah yang begitu berantakan. Seluruh wajah yang penuh dengan jahitan.
“Terima kasih, kamu mau datang ke pameran lukisan pertamaku.” Ujar laki-laki berwajah aneh itu. Dahi Dee mengkerut.
“Sama-sama, terima kasih juga telah mengundangku. Apakah kita pernah bertemu sebelumya?” Tanya Dee pada laki-laki yang asing di matanya. Laki-laki tertawa.
“Rupanya kamu benar-benar telah melupakanku ya? Tiga tahun kamu menghilang, Dee. Dan tiga tahun aku kesepian.” Dahi Dee kian mengkerut.
“Aku, Andre…”What! Jantung Dee nyaris copot, benarkah ini Andre? Andre yang menyakitinya tiga tahun lalu, Andre yang tampan. Apa yang terjadi dengannya?
“Andre, Dee. Masih kamu ingat? Oh, maaf, kamu mungkin takkan ingat. Wajahku sekarang sudah berubah, Dee. Kecelakaan itu mengambil semuanya dariku, uang, wajah, dan sebuah rasa sakit. Shakira telah meninggalkanku saat aku jatuh. Dia tak mau menerimaku dalam keadaan cacat dan miskin. Kamu tahu, Dee. Selama itu aku mulai menyadari bahwa aku telah menyakiti wanita sebaik kamu. Karena itulah aku terus mencarimu. Awalnya Mom tak mau memberitahukan kemana kamu pergi, namun setelah Mom tahu betapa aku menyesali dan ingin memperbaiki semua kesalahan ini, Mom akhirnya menyerah dan selalu menceritakan keadaan dirimu, Mom juga memberitahukan mengenai kepulanganmu kemarin. Aku minta maaf, Dee.” Panjang lebar Andre menjelaskan peristiwa yang membuatnya seperti ini. Airmata Dee bercucuran. Ah, Andre tega nian Shakira melakukan ini padamu.
“ Satu yang tidak hilang dalam diriku, Dee. Semangatku, aku selalu bersemangat untuk maju. Sampai akhirnya aku berhasil mengadakan pameran lukisan pertamaku ini. Semata karena aku ingin memperoleh impianku dan untuk memperbaiki seluruh kesalahanku padamu. Aku ingin bersamamu lagi, Dee. Berikan aku kesempatan. “ Andre memelas pada Dee. Batin Dee menjerit. Haruskah dia menerima dan memberi Andre kesempatan itu?
“Aku janji takkan pernah melukaimu lagi. Aku mencintaimu, Dee. Aku akan mengoperasi kembali wajahku dan menjadi Andremu yang dulu.” Butiran airmata Andre turun perlahan.
“Dre, Aku mencintaimu, dulu, hari ini, dan masa nanti. Tak peduli seperti apa kamu sekarang.” Dee memeluk Andre. Ya, Dre, karena cintalah aku memberi maaf sebelum kamu meminta maaf, karena cinta aku memberi kesempatan sebelum kamu meminta kesempatan itu, dan karena cinta aku menerimamu apa adanya. Desah Dee dalam bahagia.

sumber : http://www.indonesiaindonesia.com

Gagal merayu

Si Asep sedang membaca emailnya, dan ada artikel menarik tentang cara berkenalan dengan (baca: merayu) cewek. Salah satunya adalah dengan memulai perbincangan seperti berikut :
Cowok : “Maaf, mbak. Mbak punya obeng, ngga?”
Cewek : “Ha? Nggak..”
Cowok : “Kalo nomer hp punya kan?”
…..
Akhirnya, Asep Surasep ingin mencoba “rayuan maut” tersebut.
Dan… Di suatu taman…
Asep : “Maaf, mbak. Mbak punya obeng nggak?”
Cewek : “Punya… Mau yang plus atau minus?”
Asep : “Eh?!?,..ngg..yang minus aja mbak. Kalo palu punya nggak?”
Cewek : “Punya juga.. nih..”
Asep : “(Damn..) ?? Kalo kunci inggris, ada nggak?” (dengan penuh pengharapan agar si cewek menjawab “tidak”)
Cewek : “Ooo.. itu juga ada… dari ukuran 10 sampai 20. Mas mau yang mana?”
Asep : “(buset…).. DAAMMMN…!! F&^%**K…. To the point aja deh, mbak. Mbak punya nomer hape nggak?”
Cewek : “Ooo.. ini.. (sambil menyodorkan kartu nama dan brosur Ace hardware). Kalo mas butuh perkakas, hubungi saya aja. Saya kebetulan di bagian sales Ace Hardware, pusat perkakas yang terlengkap. Ace hardware gitu lho!!!…”
Asep : “….nasiiib….” (sambil pergi dengan tertunduk lesu..)

Sumber:ceritalucu.com

Si Pelit

Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.
Satu orang pengembara kebetulan lewat di tempat itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.
"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"
"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu dapat dengan mudah mengambilnya saat kamu ingin membeli sesuatu?"
"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.
Pengembara itu kemudian mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.
"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan batu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"
Harta yang kita miliki sama nilainya dengan kegunaan harta tersebut.

copy paste dari  
http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Si-Pelit-58

Kisah Cinta Putri Quraisy dan Nabi Muhammad saw. Semasa Mudanya

Suatu hari di Makkah, sekitar tahun 595 M. seorang perempuan bangsawan, kaya raya, cantik, dan terkenal cerdas serta tegas duduk mendengarkan laporan seorang anak muda tentang perjalanan dan transaksi perdagangan yang dilakukannya di Syam (sebutan yang diberikan bagi kawasan yang membentang dari pegunungan Taurus, di sebelah utara, sampai ke Sinai, di sebelah selatan, dan antara Laut Putih di sebelah barat dan hulu sungai Eufrat dan padang pasir Arab di sebelah timur). Ternyata, transaksi itu sangat menguntungkan, karena anak muda itu dapat menjual barang dagangan yang dibawanya hampir dua kali lipat dari harga yang dibayarkan. Namun, bukan laporan itu yang memikat perempuan anggun nan cantik yang berusia sekitar empat puluh tahun itu. Entah kenapa perhatiannya kali ini lebih banyak tak terkendali dan kemudian tiba-tiba terpusat pada anak muda itu sendiri. Bukan pada laporan yang dikemukakannya.

Anak muda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun itu memiliki sosok tubuh sedang, ramping, dengan bentuk kepala besar, punggung lebar, dan anggota tubuh lainnya yang sangat serasi. Kulitnya cerah, tidak terlalu putih dan tidak coklat. Rambut dan janggutnya lebat dan hitam, tidak lurus dan tidak terlampau ikal. Rambutnya mencapai pertengahan antara daun telinga dan punggungnya. Panjang janggutnya serasi. Sementara dahinya lebar, matanya berbentuk oval lebar, dan alis matanya yang lebat tampak melengkung namun tidak bertaut. Hidungnya mancung, mulutnya lebar berbentuk bagus. Walaupun janggutnya dibiarkan tumbuh, ketampanannya senantiasa berpendar, sedangkan kumisnya tumbuh lebat di atas bibir atasnya. Yang menambah ketampanan alamiahnya adalah cahaya yang memancar di wajahnya dan pendar cahaya itu terutama tampak pada dahinya yang lebar dan matanya yang bening.
Perempuan yang kelak mendapat gelar agung “Ibunda Pertama Orang-Orang Beriman” itu benar-benar terpesona dan terpikat dengan anak muda itu. Menyadari dirinya masih cantik, namun lima belas tahun lebih tua ketimbang anak muda itu, tiba-tiba membersit dalam benaknya “ide berani”: maukah anak muda itu menikah dengannya? Memang dia sudah banyak mengenal kehidupan, juga mengenal pelbagai tipe pria. Dia pun telah melintasi dua kali perkawinan dengan dua pria dari kalangan bangsawan. Dia juga sudah banyak memberi upah kepada sejumlah orang tua dan anak muda yang membawa barang dagangannya. Tapi, dalam hidupnya, dia belum pernah melihat atau mengenal pria yang sungguh istimewa seperti anak muda yang satu itu.
Begitu anak muda itu memohon diri dan berlalu, hati perempuan nan cantik dan berkepribadian sangat matang itu sangat resah dan gelisah. Bayang-bayang anak muda nan tampan, santun, ramah, dan berakhlak mulia itu benar-benar “menyergap” dan menggelayuti benaknya. Dia pun tenggelam dalam pikirannya, membayangkan kembali nada-nada suara anak muda yang menggemakan kejujuran, keramahan, kesantunan, dan ketegasan itu ketika menceritakan perjalanannya ke Syam. Dia tenggelam dalam perasaannya membayangkan kembali seraut wajah anak muda yang memancarkan keagungan dan kemudaan itu. Tiba-tiba, dia merasakan suara hatinya berputar-putar mengitari ruangan tempat dia bertemu dengan anak muda tersebut. Seketika pula hatinya bergetar dan tubuhnya gemetar. Dia kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, “Duh, mengapa hatiku bergetar dan tubuhku gemetar, sedangkan masa mudaku hampir atau malah sudah berlalu?”
Apa sesungguhnya yang sedang terjadi?
Ketika merasa telah menemukan jawabannya, perempuan anggun nan bangsawan itu tiba-tiba tertegun dan tercenung. Benar-benar bingung dan limbung. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan membawa perasaan seperti itu, selepas sedemikian lama dia menutup hatinya dan terlepas dari kehidupan pria. Dia pun tidak mengerti, bagaimana dia harus menghadapi keluarganya, selepas menolak lamaran para tokoh dan para hartawan terpandang dan terkemuka di kota kelahirannya. Tapi, mengapa pula dia sibuk memikirkan tanggapan kaumnya, sebelum mengetahui tanggapan anak muda itu tentang dirinya? Apakah anak muda itu akan menaruh hati kepada seorang perempuan berusia empat puluh tahun dan berstatus janda? Ya, seorang perempuan yang telah berusia empat puluh tahun dan berstatus janda.
Perempuan yang mendapat gelar Putri Quraisy (Amirah Quraisy) itu pun merasa diterpa perasaan sangat malu. Dalam usianya yang telah cukup lanjut, jika dibandingkan dengan anak muda itu, tentu dia lebih layak menjadi ibunda bagi anak muda itu. Malah, seandainya ibunda anak muda itu masih hidup pun, usianya tentu belum melintasi empat puluh tahun perjalanan hidup anak manusia. Selain itu, dirinya pun saat itu adalah seorang ibunda. Suami pertamanya memberinya seorang putri yang hampir tiba saatnya memasuki mahligai perkawinan. Sementara suami keduanya telah memberinya seorang putra, seorang bocah yang masih kecil.
Akhirnya, tak kuasa menanggung beban gelegak hati dan pikiran yang sangat berat dan menggelisahkan hati itu, dia pun mengundang seorang sahabat karibnya yang bernama Nafisah binti Munabbih, untuk melepaskan beban yang hampir tak kuasa ditanggungnya itu. Ketika sang sahabat datang menemuinya, dia pun segera melontarkan segala gejolak dan gelegak hati dan pikirannya yang galau dan risau itu kepada sang sahabat. Selepas berbincang dan bertukar pikiran lama, akhirnya sang sahabat menawarkan diri untuk mendekati anak muda itu, dan jika perlu, mengatur pernikahan mereka berdua.
Tak lama selepas meninggalkan rumah megah perempuan anggun nan bangsawan yang sedang diterpa “penyakit cinta” itu, Nafisah pun dengan bergegas segera datang kepada anak muda yang membuat galau dan risau sahabatnya itu. Selepas berbagi sapa sejenak dengan anak muda nan tampan, santun, ramah, dan berakhlak mulia tersebut, Nafisah kemudian “menyergap”nya dengan sederet pertanyaan: apa sebabnya hingga saat itu dia belum juga berkeluarga; mengapa menghabiskan masa mudanya begitu saja; mengapa tidak menenteramkan hati di samping seorang istri yang menyayanginya dan meniadakan kesepian serta dapat menghiburnya?
Mendengar sederet pertanyaan yang mengusik hatinya itu, anak muda yatim dan tak pernah mengenal wajah ayahnya semenjak lahir itu hampir tak kuasa menahan air matanya yang hampir tumpah. Seketika dia teringat akan kesepian dan keperihan hidup yang dideritanya semenjak ditinggal wafat ibundanya sebagai bocah berusia enam tahunan. Dia pun memaksakan dirinya untuk tersenyum seraya menjawab, “Aku belum menemukan siapa yang akan menjadi teman hidupku.” Seketika itu juga Nafisah binti Munabbih “menyergap”nya dengan jawaban, “Bagaimana kalau engkau ditawari seseorang yang memiliki harta, kecantikan, kemuliaan, dan kebangsawanan? Apakah engkau masih juga tidak menaruh perhatian?”
Pertanyaan Nafisah terasa menyentuh hati anak muda itu yang tak lain adalah Muhammad bin ‘Abdullah yang kala itu belum lagi diangkat sebagai Utusan Allah. Seketika itu pula dia mengerti, siapa yang dimaksudkan oleh Nafisah. Dialah Khadijah binti Khuwailid. Siapa lagi, di Kota Makkah kala itu, yang dapat menandingi Khadijah binti Khuwailid dalam hal kemuliaan, kebangsawanan, dan kecantikan? Ya, andaikata benar yang ditawarkan Nafisah adalah Khadijah, tentu saja dia mau. Tapi, apakah memang Khadijah yang dimaksudkan Nafisah? “Bagaimanakah aku dapat menikahinya?” tanya anak muda itu dengan perasaan ragu dan galau. “Serahkan hal itu kepadaku!” jawab Nafisah binti Munabbih lega dan gembira, karena anak muda itu tak menolak calon istri yang ditawarkan kepadanya.
Nafisah binti Munabbih segera memohon diri. Dia meninggalkan anak muda itu hanyut dalam lamunan, membayangkan kelemahlembutan Khadijah. Terbayang di pelupuk mata dan dalam pikirannya, masa depan nan indah, penuh kemesraan dan kasih sayang. Tapi, dia segera menghentikan angan-angannya, agar tidak mengkhayal terlalu jauh. Sebab, dirinya tahu, Khadijah pernah beberapa kali menolak lamaran orang-orang Quraisy terkemuka dan terpandang. Untuk menenangkan diri, dia segera pergi menuju Ka‘bah seraya berusaha mencoba bersikap realistis.
Pada saat yang sama Nafisah segera menapakkan kaki menuju rumah Khadijah binti Khuwailid. Betapa gembira hati Khadijah selepas mendengarkan hasil perbincangan sahabatnya itu dengan anak muda itu. Khadijah kemudian meminta Nafisah memanggil anak muda itu agar datang kepadanya. Setelah dia datang, Khadijah pun berkata kepadanya, “Wahai putra pamanku! Aku mencintaimu karena kebaikanmu kepadaku. Juga, karena engkau senantiasa terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat dengan sikap nan bijak. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran akhlak dan kejujuran perkataanmu.”
Kemudian perempuan nan bersih dan suci (Al-Thahirah) yang menurut beberapa sumber lahir di Makkah sekitar 555 M dan putri pasangan suami-istri Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai dan Fathimah binti Zaidah bin Al-‘Asham dari Bani ‘Amir bin Lu’ayyi bin Ghalib itu menawarkan dirinya untuk dinikahi. Mereka pun sepakat agar masing-masing berbicara kepada pamannya. Khadijah berbicara kepada pamannya, ‘Amr bin Asad, karena ayahandanya, Khuwailid bin Asad, berpulang menjelang peristiwa Perang Fijar. Pada kesempatan tersebut, Hamzah bin ‘Abdul Muththaliblah, didampingi Abu Thalib bin ‘Abdul Muththalib dan beberapa orang lainnya, yang diutus Bani Hasyim untuk mewakili mereka. Meskipun relatif masih muda, Hamzah adalah yang paling dekat hubungannya dengan Bani Asad, karena saudara perempuan kandungnya, Shafiyyah binti ‘Abdul Muththalib, menikah dengan saudara lelaki Khadijah, Al-‘Awwam bin Khuwailid (suami keduanya). Maka, Hamzah membawa keponakannya menemui ‘Amr bin Asad dan melamar Khadijah. Kesepakatan dicapai di antara mereka bahwa Muhammad harus memberinya mahar dua puluh ekor unta betina. Dan, kemudian, dilaksanakanlah pernikahan antara Muhammad bin ‘Abdullah dan Khadijah binti Khuwailid bin Asad yang berasal dari klan Bani Hasyim dari suku Bani Asad.
Ya, itulah penggalan kisah cinta antara Khadijah Al-Kubra dengan Muhammad Saw. yang antara lain Ahmad Rofi’ Usmani hadirkan dalam buku Rumah Cinta Rasulullah. Kisah-kisah cinta lainnya, antara beliau dan para istri yang lain, juga bagaimana beliau “mengarungi” gelombang perkawinan beliau, yang kadang juga “memanas”, serta bagaimana tentang hubungan dan etika seksual yang beliau ajarkan, Anda dapat membacanya dalam buku tersebut yang telah beredar sejak 24 Mei 2007 dan diterbitkan oleh Penerbit Mizania, Bandung. Selamat menikmati buku tersebut!

Humor

 
© Copyright Hidup Sang Blogger 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.